#PosterEdisiSutrah

Iklan

Persembahan Terbaik di 10 Dzulhijjah

☑ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh menjelaskan  Firman Alloh ta’ala berikut: 

{“Dalam rangka *menguji kalian*, siapa yg *paling bagus amalannya*.”} Al-mulk 2
👉 Berkata Imam Fudhoil bin ‘Iyadh : 

Yg paling bagus adalah *yg paling ikhlas & yg paling benar*. 

Sahabat-sahabat beliaupun bertanya ” wahai Abu ‘Ali : kenapa harus  ikhlas & harus benar …??? 
👉 Beliau menjawab :  
 ☑Sesungguhnya amalan ketika dilakukan dng ikhlas tapi tdk benar, maka Alloh tidak akan menerimanya. 

☑Sebaliknya ketika  dilakukan dng benar akan tetapi tdk ikhlas. Alloh pun tidak akan menerimanya. 
👉Yang diterima hanyalah amalan yg ikhlas dan benar. 

✔Seseorang yg ikhlas memaksudkan amalannya hanya untuk Alloh.

✔Adapun benar adalah sesuai dng sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. 
Dan itulah pengamalan Firman Alloh ; 
“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Alloh , maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih *(yg benar)*  dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Alloh *(ikhlas)* .”

Integrasi Blog

Hai saya aktif lagi!

Lama nian tidak mencoba menulis. Kaku rasanya. Sebagai awalan, saya akan pos semua tulisan saya di website ini. Setelah kepunahan luthfihutomi.com rasanya saya harus kembalikan semua artikel saya ke satu tempat. Sayangnya tool import dari WordPress ga cukup membantu. Saya harus posting ulang setiap artikel satu per satu. Ok let me start it. Bismillah…

Hikmah #6: Berguru dan Mengambil Hikmah

Banyak orang yang berguru pada orang yang bukan ahlinya. Terutama di era digital sekarang, semua bebas men-share apapun. Tak sedikit yang menjadikan internet menjadi gurunya. Salahkah?
Banyak perspektif yang beredar tentang ini. Saya berpendapat bahwa berguru harus dibedakan dengan belajar dan mengambil hikmah. Berguru konteksnya lebih ke menuntut ilmu, seperti belajar di sekolah, kuliah, pengajian, les intensif-dimana murid bertatapan langsung dengan gurunya dalam bahasan yang kontinu dan intens. Sedangkan belajar, kini sudah dipahami secara luas, bisa kita lakukan dengan siapapun bahkan kita bisa belajar dari diri sendiri. Wabilkhusus kalau kita belajar dari sesuatu yang bukan manusia (pengalaman, peristiwa langit dan bumi, dll) itu adalah proses mengambil hikmah. Atau istilah agamanya ‘ibroh.
Berguru harus kepada yang ahli karena dari gurulah kita mengambil ilmu yang menjadi pegangan, pedoman dan prinsip kita. Para ulama dan ahli hadis dahulu hanya mengambil ilmu dari guru yang terpercaya. Itu kenapa kita kenal yang namanya sanad, yaitu si fulan A meriwayatkan anu kepada si fulan B, fulan B kepada fulan C, teruuuus seperti itu hingga sampai kepada telinga kita di zaman sekarang. Maka dari itu gak sembarang orang bisa meriwayatkan ilmu, bisa menjadi guru. Harus mereka yang mumpuni dan siap menjadi teladan yang lolos seleksi jadi guru sebenarnya.
Lain halnya belajar (dalam konteks mengambil hikmah). Seperti tagline blog ini, hikmah bisa didapatkan dimana saja dan pada apa saja. Kita bisa belajar dari alam, hewan, tumbuhan, bahkan pengalaman kita sendiri. Proses ini dilakukan terus-menerus dengan berdasarkan ilmu yang kita punya dari proses berguru, sehingga ilmu dan akal kita semakin kaya. Kita bisa berdiskusi, memanfaatkan informasi yang bertebaran di internet dan media lain, bahkan debat. Di saat itu pikiran kita bebas dan kreatif.
Namun bukan berarti berguru dan mengambil hikmah itu 2 proses yang terpisah. Keduanya kita lakukan dalam seluruh proses pembelajaran kita. Yang membedakan adalah konteksnya, metodenya dan tentu saja niatnya.

Hikmah #4: Memilih Pekerjaan

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman. Diskusinya lebih banyak berkisar pada pekerjaan dan pendidikan. Saya ditanya nyesel gak kuliah di jurusan itu, yang kurang dicari di Indonesia. Saya jawab tidak. Ya karena saya kuliah bukan buat kerja, tapi cari ilmu. Kalau kerja saya pasti cari duit. Kalau kuliah saya gak cari duit. Makanya setelah kuliah saya gak cari kerja, tapi milih kerjaan. Saya pengen ilmu saya berguna di tempat kerja jadi saya gak mau sembarangan kerja. Karena bagi saya, kerja itu salah satu jalan meniti karir: Pengembangan kehidupan yang lebih baik. Jadi saya gak mau main-main milih kerjaan yang jadi karir saya.

Masalahnya gak banyak employer yang ngasih kesempatan untuk sarjana dari jurusan saya. Ini problem lain karena sifatnya eksternal. Kalau dengan itu lantas beralasan kerja di luar negeri lebih baik karena di sana jurusan kita lebih dihargai, maka itu salah. Gak relevan. Pekerjaan seseorang gak selalu relevan dengan background pendidikannya. Tapi dari bekal ilmu seseorang, yang berbuah kompetensi, bisa muncul relevansi dengan pekerjaannya. Satpam jurusan komunikasi bisa saja menggunakan keterampilan komunikasinya untuk negosiasi dengan para pengacau. Banyak lagi contoh lainnya.

Kita pun harus tetap punya mimpi, punya idealisme. Jangan mau bekerja apa saja. Harus ada tujuan. Kita hidup hanya sekali dan sebentar maka jangan disia-siakan.

Hikmah #3: Jalan Karir

Abis baca Great Work-nya Covey, saya jadi bertanya-tanya apa sih karir impian saya. Atau istilahnya Dedy Dahlan: Profesi yang Gue Banget. Tentu gak mudah mendefinisikannya mengingat jalan karir saya baru dimulai. Akan sangat prematur untuk memutuskan saya bakal fokus dimana. Tapi paling gak, Covey dan Dedy sama-sama ngasih rambunya.

Karir yang gue banget itu adalah titik temu dari bakat/identity, hasrat/passion, dan nurani yang kita dibayar (payout/payoff) di situ. Dari sini saya mulai eksplorasi diri. Saya punya bakat menulis, gambar, bahkan mikir. Saya punya minat untuk baca berbagai hal terutama agama, pemikiran (berbagai hal yang dianggap orang berat), sosial, dan juga analisis di dunia ilmiah/akademis. Dan saya terdorong untuk menjadi jalan perbaikan dan pengembangan diri bagi banyak orang.

Saya baru sadar kalau saya suka dunia self-help, tapi juga suka dunia sosial. Buktinya saya cumlaude tapi buku dan artikel yang saya baca kebanyakan tentang psikologi. Saya pikir bisa ngembangin karir di 2 hal itu: Kritik sosial dan pengembangan diri.

Kalau ditanya ingin kerja dimana, saya tetep jawab Bappenas. Tapi mengingat dunia kerja gak pasti dan yang pasti bisa dibagi 3 besar: PNS, BUMN, swasta. Jadi saya pilih Pertamina dari BUMN dan Astra dari swasta. Itu 3 tempat kerja yang saya inginkan. Tentu saya bukan mau jadi pencari kerja, saya mau mengejar tujuan hebat dan berkontribusi hebat.